Dibantu Asing, Oligarki Politik dan Ekonomi Siap Habisi Jokowi di 2019
![]() |
| Meme Jokowi diserang menuju 2019. (Facebook/ayoindonesiaberjaya) |
“Kami hanya memetakan kekuatan sumber daya, penggalangan issue, untuk mempersiapkan perang 2019. Kami hanya mempersiapkan kebutuhan logistik dan pendanaan.” Katanya sambil tersenyum.” Ini harus dikelola dengan professional karena banyak jebakan aturan dari Bawaslu yang bisa menghambat pendistribusian logistik dan uang. Setidaknya kami terhubung dengan orang orang dari LSM, Ormas dan Partai. Kami tidak deal dengan lembaga tapi dengan orang orangnya. Smart kan “ Sambungnya.
Saya tahu bahwa sahabat saya itu hanyalah pengusaha dan baginya bukan soal politik tapi soal masa depan bisnisnya di Indonesia. Tapi bukan hanya dia seperti itu. Yang saya tahu ada beberapa pengusaha yang jadi proxy asing untuk penyaluran program pembiayaan politik. Cara mereka menarik dana dari luar negeri itu memang canggih. Dan penyalurannya pun canggih. Bahkan mereka sudah siap ratusan ribu KTP sebagai dasar nanti membuat rekening tabungan. Kemudian ribuan rekening itu akan di input dengan uang secara digital system dan pada waktu bersamaan ratusan ribu ATM itu akan jadi donatur kandidat presiden atau partai.
Sepertinya aksi untuk menjatuhkan dan mengalahkan Jokowi pada pemilu 2019 sudah menjadi agenda besar bagi Asing. Ini tidak ada kaitannya dengan politik mau seperti apa. Mereka engga peduli soal agama atau idiologi. Bagi mereka , “ Jokowi adalah batu sandungan besar yang menghalangi oligarki politik dan Bisnis. Ini jelas tidak sehat. Harus dihentikan. Apa jadinya politik bila tidak melahirkan rente ekonomi. Itu sama saja lapo tanpa tuak”. Kata teman saya sambil tersenyum. Saya tak hendak bicara lebih jauh tapi ingin segera keluar dari ruangan itu. Dia sahabat saya dalam bisnis tapi bukan sahabat dalam moral. Kita berbeda, dan karenanya memutuskan keluar dari kemitraan bisnis dengan dia. Saya tak ingin gagal menjadi putra ibu saya yang melahirkan saya dengan susah payah dan membesarkan saya dengan keringat berlelah tak berujung. Tidak.
Ketika menuju kantor, saya membayangkan ada orang baik yang 3 tahun berjuang dalam sepi , dan wajah yang semakin menua karena lelah, kini harus di habisi. Apa salahnya ? dia hanya ingin mencintai negerinya dan berkorban untuk itu. Tanpa peduli apakah dia harus kehilangan banyak waktu kebersamaan dengan keluarga dan teman temannya. Tanpa peduli kehadirannya membuat orang dengan mudah memproduksi fitnah atas nama agama dan politik terhadap dirinya. Dia anak kandung ibu pertiwi, yang membungkukan tubuh dihadapan anggota dewan, guru, ulama, partai. Ia mendatangi rakyat dipelosok dengan cinta dan senyum tertulus. Andaikan saya tak bisa membelanya, saya malu berdoa dan datang ke tempat ibadah untuk menyapa Tuhanku. Malu, karena saya menyebut Tuhan Maha Pengasih lagi Penyayang, sementara saya berdiam diri ketika ada orang baik di habisi… Kisah Nyata DDB
Sumber:

Komentar
Posting Komentar